Rabu, 22 Juli 2009

Lantunan Sensual

Rayuan, pujian, erangan, rintihan, desahan, dan lenguhan saat sedang melakukan hubungan intim dengan pasangan akan mengantarkan anda dan pasangan sampai pada puncak sensasi yang luar biasa. Ungkapan suara juga memiliki pengaruh terhadap diri sendiri dan pasangan anda dalam mencapai kepuasan seksual.

Karenanya, beberapa pakar seks menyarankan untuk mengekspresikan kenikmatan seks dengan lenguhan, dan jeritan-jeritan kecil nan manja. Dalam buku The 10 Commandments of Pleasure, yang ditulis Susan Block, disarankan agar pasangan seks mengeluarkan suara saat bercinta.

Menurut Susan, desahan, lenguhan dan lainnya itu berarti bahwa anda telah mengekspresikan kebebasan dan kepuasan bercinta bersama pasangan. Mulut yang terkunci rapat saat bercinta mengesankan kekangan, himpitan, dan tekanan.

Lebih jauh, Susan menyatakan bahwa ekspresi melenguh biasanya merupakan suatu tindakan yang paling digemari perempuan saat bercinta. Namun, ekspresikanlah lebih jauh dengan suara-suara lainnya. Ini dapat memberi sinyal pada pasangan anda mengenai kenikmatan seks yang anda terima. Terutama, pada saat-saat menjelang orgasme...Itu akan sangat berarti bagi pasangan anda.

Begitu pula sebaliknya. Jika anda dapat merangsang pasangan dengan baik dan berhasil mengeluarkan serta melakukan gerakan fisik tak terkendali, itu pertanda dia sedang menikmatinya.

Senada dengan Susan, Dr. Roy Levin, ahli biomedik dan seksologis dalam penelitiannya menyebutkan bahwa setidaknya ada empat alasan mengapa manusia mengeluarkan suara-suara tertentu sewaktu beraktivitas seksual.

Yang pertama, untuk menyampaikan informasi. Disadari atau tidak, kita menggunakan suara untuk memberi tahu pasangan tentang apa yang terjadi dalam seks. Kita bersuara untuk menunjukkan apa yang kita suka dan tidak suka, mau lebih atau kurang stimulasi, juga saat mendekati dan sedang orgasme.

Yang kedua, meningkatkan gairah. Suara yang bersifat seksual bisa menambah gairah baik ketika kita yang bersuara maupun pasangan. Yang ketiga, meningkatkan kenikmatan.

Para peneliti punya istilah keren untuk ini, yaitu amplifikasi hedonik. Kata mereka, suara dalam seks bisa menambah kenikmatan bukan karena suara itu sendiri, melainkan lantaran dampaknya terhadap pernafasan.

Ketika orang sudah sangat bergairah dan mendekati orgasme, peningkatan suara-suara seks dapat terkait dengan hiperventilasi, sementara hiperventilasi itu sendiri dikenal bisa menghantarkan dari euforia ringan sampai kondisi mirip trans.

Dan yang terakhir, memfasilitasi sistem pusat kegairahan. Hipotesis Levin adalah dengan membuat suara dalam seks manusia menyinkronkan sistem kegairahan di tubuh, intinya mengirimkan pesan-pesan ke seluruh tubuh yang berakibat peningkatan gairah sebagai respons dari pesan-pesan tadi.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda